Jamu..... Jamuuu... Jamunya mas.. jamunya mbak.. ?!"
Siapa nih disini, yang baca opening tulisan pakai nada?
Ya, secara tidak sadar ternyata nada "si mbok jamu" sudah melekat kuat dalam benak kita. Saking lekatnya, kita sampai hafal kapan momen pertama kali kita minum jamu dan ekspresi apa yang kita tampilkan.
Betul tidak?
Bagi kami para wanita, jamu sendiri ibarat bagian yang tidak dapat dipisahkan. Banyak sekali jenis jamu yang dipercaya baik bagi perawatan kecantikan dan kewanitaan. Dalam journal Cosmetic Dermatology 2019 mengatakan bahwa, "ekstrak kunyit dapat meningkatkan elastisitas kulit dan mengurangi kerutan pada kulit wajah". Dengan kata lain membuat wajah awet muda. Duuuhh....
Namun, meski jamu baik bagi kesehatan konsumsi berlebihan dapat menimbulkan gangguan pencernaan seperti pusing, mual, muntah dan lain sebagainya.
Setiap daerah di Indonesia mempunyai minuman racikan herbal khasnya masing-masing. Beberapa nama minuman herbal yang terkenal, seperti wedang uwuh dari Jogja, serbat di Lombok dan bandrek di Jawa barat.
Minuman herbal satu inipun dapat di konsumsi oleh anak - anak, remaja, orang dewasa bahkan lansia.
Saat ini jamu banyak hadir di cafe - cafe atau rumah makan bertemakan adat Jawa atau etnik. Sedangkan jaman dulu, kalau ingin minum jamu harus buat sendiri atau rela menunggu dan manggil - manggil "si mbok jamu" lewat bawa gendongan atau sepeda ontel depan halaman. Jadi kebayang nada suara si mbok jamunya, persis seperti opening tulisan ini. Hahaha
Dalam satu bakulan biasanya terdapat banyak jenis jamu yang ditawarkan. Mulai dari jamu kunyit asam, beras kencur, pahitan, temulawak, gula asem bahkan jamu kuat pasutri pun juga ada loh, lengkap dengan tambahan telur ayam kampung mentahnya.
Cara mengolah jamu juga cukup beragam, ada yang diparut untuk mendapat sari patinya, dikeringkan dan diseduh seperti teh atau diiris dan kemudian direbus hingga berkurang setengah airnya. Dan bahan yang dipakai biasanya diambil dari bahan alami seperti akar rimpang, daun-daunan, kulit batang dan biji-bijian.
Saya sendiri mengenal jamu sejak masih SD. Tepatnya kelas 6 SD, tepat ketika mulai menstruasi pertama.
Saat itu saya sering mengeluh nyeri perut hebat, keringat apek dan lemas khas penyakit anak gadis yang beranjak remaja.
Ibu yang notabene wanita Jawa asli yang terbiasa dengan jamu - jamuan pun dengan sigap membuatkan saya jamu kunyit asem plus daun sirih untuk melancarkan haid kala itu. Kata ibu, jamu ini berkhasiat sebagai anti nyeri, mengurangi keringat berlebih dan membersihkan organ intim kewanitaan.
Hmm saya jadi ingat bagaimana rasanya keram perut, bau keringat dan gatalnya "si Miss v" waktu itu. Benar - benar sangat mengganggu.
Kesan pertama kali seruput jamu kunyit asem atau kunir asem ini adalah kecut, getir dari irisan kunyit dan daun sirih disertai rasa manis dari gula merah. Rasa yang sangat asing di lidah anak SD kala itu. Tapi melihat khasiat dan nikmatnya ibu minum jamu, saya pun tergiur untuk mencobanya.
Lama kelamaan kebiasaan minum jamu ini jadi sebuah kewajiban bagi saya dan adik-adik ketika tiba waktunya haid.
Minum kunyit asam dalam keadaan dingin sungguh sebuah kenikmatan yang hakiki loh. Penasaran? Cobain aja!.
Tak hanya kunyit asam, saya juga menyukai jamu beras kencur yang rasanya cenderung manis gurih dengan aroma kencur yang khas.
Setelah dewasa, kebiasaan minum jamu ini ternyata sangat berguna. Terlihat dari tubuh yang jarang sakit, haid lancar, jauh dari bau badan tak sedap dan masih banyak lagi.
Jamu juga cukup diandalkan sebagai minuman herbal yang layak dikonsumsi pasca melahirkan. Selain untuk melancarkan peredaran darah juga mampu membersihkan organ intim pasca pemulihan. Selain diminum, racikan jamu juga bisa dibuat wedang, lulur mandi, pilis dan boreh yang berkhasiat mengembalikan stamina dan tubuh ideal pasca melahirkan.
Meski begitu, ada beberapa pantangan minum jamu bagi ibu hamil dan menyusui dalam kondisi tertentu. Dan harus melalui konsultasi dokter sebelumnya. Jadi buat ibu ibu yang sedang hamil dan menyusui tolong tetap berkonsultasi pada dokter demi kesehatan dan kenyamanan bersama buah hati tercinta.
Selain itu, racikan jamu herbal juga banyak dipakai sebagai alternatif mengobati anak yang sakit. Hal itu menjadi solusi pertama tercepat, ketika kita tinggal jauh dari fasilitas kesehatan atau dalam kondisi keuangan yang menipis. Hehe
Salah satu jamu racikan sederhana yang paling sering saya gunakan untuk mengatasi sakit batuk anak yakni parutan kencur, madu, dan perasan jeruk nipis. Perasan daun sager untuk panas dalam, sariawan dan batuk. Jahe, kunyit dan sereh juga tidak luput dari racikan obat-obatan herbal yang harus selalu ada di rumah, karena kalau kami sekeluarga sedang tidak enak badan bahan tersebut biasa diolah menjadi teh herbal dengan cara mengiris dan merebus semua bahan (jahe, kunyit dan sereh), tunggu hingga mendidih dan airnya setengah lalu diminum selagi hangat kuku.
Bagi yang suka manis bisa menambahkan madu atau gula merah dalam teh herbal. Dan jika ingin sedikit asem segar, kita juga bisa menambahkan sedikit perasan jeruk nipis atau irisan lemon. Minuman kesehatan ini benar-benar menjadi "favorit" keluarga kami sejak dulu untuk menaikkan imun tubuh setelah lelah beraktivitas.
Yuk bagi teman-teman yang penasaran seperti apa rasanya, tidak ada salahnya untuk mencoba. Semoga dengan ikhtiar jamu herbal ini kita semua menjadi keluarga yang sehat dan bahagia.



Komentar
Posting Komentar